Selamat datang buat para pengunjung blog saya. Mari berbagi informasi mengenai apapun disini, asalkan tidak yang menyangkut SARA. Karena sekecil apapun informasi yang kita terima berguna buat bahan pembelajaran kita.
Rabu, 16 Februari 2011
Apakah KEKUATAN ataukah KELEMAHAN ?
Coba renungkan sejenak, terkadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar
kita. Seperti contoh cerita seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang memutuskan
untuk mempelajari Judo, meskipun ia telah kehilangan lengan kirinya dalam sebuah
kecelakaan mobil.
Sang Bocah belajar dari seorang guru Judo Jepang. Bocah ini benar-benar
belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak paham, kenapa setelah tiga bulan latihan,
sang guru hanya mengajarkannya satu gerakan.
“Sensei,” akhirnya sang bocah bertanya, “Bukankah saya seharusnya
sudah belajar gerakan lainnya?”
“Ini adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga
satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahui” jawab sang Sensei.
Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya, bocah
ini tetap berlatih dan berlatih.
Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke
turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang bocah
dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya. Pertarungan
ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat, lawannya kehilangan
kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan piawai menggunakan satu
gerakannya untuk memenangkan pertarungan. Masih heran dengan
kemenangannya, sang bocah masuk final.
Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Untuk
beberapa saat sang bocah terlihat tidak sepadan dibanding lawannya.
Karena kuatir sang bocah bisa cedera, wasit menyerukan time-out. Ia
bermaksud menghentikan pertarungan saat sang sensei
menginterupsinya.
“Tidak,” interupsi sang sensei,”Biarkan ia melanjutkan.”
Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat kesalahan
kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat sang bocah
menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang bocah
memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang juaranya.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya
mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu sang
bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya.
“Sensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan
satu gerakan?”
“Kamu menang karena dua alasan!” jawab sang sensei. “Pertama, kamu
hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua gerakan di judo.
Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah diketahui terhadap gerakan
itu adalah jika lawan kamu menangkap lengan kiri kamu”
Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya.
Have a positive day!
[SDMList]
Selasa, 02 November 2010
Mengelola Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard
You can not manage what you can not measure, demikian guru manajemen Peter Drucker pernah berujar. Spirit kalimat itu mengindikasikan bahwa pengelolaan kinerja manajemen atau kinerja bisnis selalu mesti dilakoni melalui proses dan hasil yang terukur. Tanpa manajemen yang berbasis pada indikator yang terukur dan objektif, sebuah gerak organisasi bisnis bisa terpeleset menjadi sejenis paguyuban yang tak produktif.Dalam konteks pengukuran kinerja perusahaan ini, sekarang kita mengenal adanya sebuah pendekatan yang disebut sebagai balanced scorecard. Pendekatan ini sendiri dipopulerkan oleh Kaplan and Norton melalui bukunya yang fenomenal itu, Balanced Scorecard : Translating Strategy Into Action. Pengertian balanced scorecard sendiri jika diterjemahkan bisa bermakna sebagai rapot kinerja yang seimbang (balanced). Kenapa disebut seimbang karena pendekatan ini hendak mengukur kinerja organisasi secara komprehensif melalui empat dimensi utama, yakni : dimensi keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan dimensi learning & growth.
Dimensi keuangan merupakan hasil akhir yang ingin digapai oleh sebuah organisasi bisnis. Sebab tanpa menghasilkan profit yang sustainable dan cash flow yang sehat, sebuah perusahaan mungkin akan lebih layak disebut sebagai paguyuban sosial. Dalam dimensi ini, beberapa indikator kinerja (atau lazim disebut sebagai key performance indicators atau KPI) yang kerap digunakan sebagai acuan antara lain adalah : tingkat profitabilitas perusahaan, jumlah penjualan dalam setahun (sales revenue), tingkat efisiensi biaya operasi (operation cost dibanding sales), ataupun juga sejumlah indikator keuangan seperti ROI (return on investment), ROA (return on asset) ataupun EVA (economic value added).
Dimensi selanjutnya adalah dimensi pelanggan yang notabene merupakan tonggak penting untuk mencapai kejayaan dalam aspek keuangan. Sebab tanpa pelanggan, sebuah organisasi bisnis tak lagi punya alasan untuk meneruskan nafasnya. Demikianlah untuk menggapai kesuksesan, perusahaan juga mesti memetakan sejumlah ukuran keberhasilan dalam dimensi pelanggan. Sejumlah key performance indicator (KPI) yang lazim digunakan dalam dimensi pelanggan ini antara lain adalah : tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction index), brand image index, brand loyalty index, persentase market share, ataupun market penetration level.
Dimensi berikutnya adalah dimensi proses bisnis internal. Pertanyaan kunci yang layak diajukan disini adalah : untuk meraih keberhasilan keuangan dan memuaskan pelanggan kita, proses bisnis internal apa yang harus terus menerus disempurnakan? Beberapa elemen kunci dalam proses bisnis internal yang layak dikendalikan dengan optimal mencakup segenap mata rantai (supply chain) proses produksi/operasi, manajemen mutu, dan juga proses inovasi. Beberapa contoh KPI yang lazim digunakan dalam dimensi ini antara lain adalah : persentase produk yang cacat (defect rate), tingkat kecepatan dalam proses produksi, jumlah inovasi proses dan produk yang dikembangkan dalam setahun, jumlah produk/jasa yang di-delivery dengan tepat waktu, ataupun jumlah pelanggaran SOP (standard operating procedures).
Dimensi yang terakhir adalah dimensi learning and growth. Dimensi ini sejatinya hendak berfokus pada pengembangan kapabilitas SDM, potensi kepemimpinan dan kekuatan kultur organisasi untuk terus dimekarkan ke titik yang optimal. Dengan kata lain, dimensi ini hendak meletakkan sebuah pondasi yang kokoh nan tegar agar sebuah organisasi bisnis terus bisa mengibarkan keunggulannya. Contoh KPI (key performance indicators) yang lazim digunakan untuk mengukur kinerja pada dimensi ini antara lain adalah : tingkat kepuasan karyawan (employee satisfaction index), level kompetensi rata-rata karyawan, indeks kultur organisasi (organizational culture index), ataupun jumlah jam pelatihan dan pengembangan per karyawan.
Demikianlah empat dimensi utama yang mesti dikelola dan diukur kinerjanya secara konstan dari waktu ke waktu. Pada dasarnya keempat dimensi diatas bersifat sinergis dan saling behubungan erat secara hirarkis. Sebuah organisasi bisnis hampir tidak mungkin mencapai keunggulan finansial tanpa ditopang oleh barisan pelanggan yang puas dan loyal. Dan barisan pelanggan yang loyal ini tak akan pernah terus tumbuh jika sebuah organisasi tidak memiliki proses bisnis yang ekselen nan inovatif. Dan pada akhirnya, proses kerja yang ekselen ini hanya akan mungkin menjelma menjadi kenyataan jika organisasi tersebut ditopang oleh barisan SDM yang unggul, kepemimimpinan yang tangguh dan budaya organisasi yang positif.
Pengelolaan kinerja organisasi bisnis secara optimal dengan demikian mesti mempertimbangkan keempat dimensi diatas secara intregratif. Serangkaian key performance indicators (beserta target angka) untuk tiap dimensi diatas mesti diidentifikasi dan kemudian dimonitor pencapaiannya secara periodik (misal setiap sebulan sekali dalam sesi monthly performance review meeting). Melalui proses pengelolaan kinerja yang komprehensif pada empat dimensi inilah, sebuah organisasi bisnis mestinya bisa terus tumbuh dan mekar menuju ranah kejayaan.
Minggu, 12 September 2010
Perjalanan Mudik yang Menyenangkan
Kamis 9 September jam stngh 5 sore start dari Cipinang... sempet telp tuan Demank tapi beliau sudah pulang dari booth... Memasuki Tol Cikampek suasana bahagia sudah tampak. Phanto bisa lari antara 110-130kpj... Hanya saja mulai daerah Cikarang hujan turun sangat lebat yang mengharuskan untuk menurunkan kecepatan. Keluar Tol Cikampek arah Jomin suasana pun lengang. Selepas Jomin memasuki jalur Pantura sama sekali tidak terlihat bahwa itu adalah suasana Mudik walaupun pemudik yang menggunakan motor sudah banyak terlihat. Kondisi jalan yang lengang ditambah dengan kondisi jalan yang lumayan mulus (walau banyak terdapat tambal sulam) mengajak aku untuk (lagi2) ngebejek si phanto antara 80-90kpj untuk berlari2 kecil. Tepat jam 9 kurang 10 menit kami sudah sampai di Tol Palimanan. Lagi2 kondisi sangat lengang phanto bisa lari sampe 120kpj, hebatnya di tol baru Bakrie malah bisa lari sampai 130 kpj... Memasuki daerah Brebes sekitar pukul 10 malem. Lagi2 volume kendaraan tidak terlalu banyak. Pantura mulai Brebes hingga Kendal kondisi jalan lumayan mulus, hajaaaaarrrr lagi bleh... Tapiiii, karna nyupir sendirian dan jalan malam. Rasa kantuk ini tidak tertahan lagi. Istirahat tidur 2 jam di Pom daerah Batang sekitar jam 12. Jam 2 pagi lanjut perjalanan... Perjalanan dari Batang hingga Solo pun kondisi sama. Alhasil tepat jam 6 pagi sampe Solo dan bisa ber-Solat Ied disana...
Mantaaaafff kondisi mudik lebaran tapi kondisi jalan sama seperti hari biasa... Baru taun ini aku alami selama ini... Amazing...
Mantaaaafff kondisi mudik lebaran tapi kondisi jalan sama seperti hari biasa... Baru taun ini aku alami selama ini... Amazing...
Langganan:
Postingan (Atom)
