Jumat, 18 Februari 2011

Bagaimana Cara Hilangkan Stres Dengan Menggunakan Kendali Gelombang Otak



Pernahkah Anda mengalami masalah yang datang beruntun dalam satu hari ? Tentu saja pernah, bukan! Sebagai contoh, ketika Anda harus memberikan presentasi penting bagi kemajuan karier, tiba-tiba datang telepon dari rumah yang mengabarkan bahwa anak Anda yang masih kecil dilarikan ke rumah sakit karena mendadak badannya panas yang sangat tinggi. Atau Anda mendapatkan fitnah dari atasan atau rekan kerja yang tidak menyukai Anda, di waktu yang sama Anda memikirkan orang tua Anda yang sedang sakit di rumah sakit.
Atau dapat keseharian di saat Anda sedang berkonsentrasi penuh karena sedang menghadapi deadline pekerjaan. Tiba-tiba datang sahabat atau kerabat yang butuh pertolongan segera, atau ada berita menyedihkan yang datang dari orang yang paling kita sayangi. Tapi mungkin juga, kita memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang "berbakat" mengubah suasana kerja atau suasana rumah menjadi tidak menyenangkan. Dan masih banyak bencana atau masalah datang bertubi-tubi di hari yang sama, oh my GOD!
Ketika muncul banyak masalah datang, baik di kantor maupun di rumah, kita cenderung bereaksi dengan panik dan memunculkan emosi negatif. Padahal kepanikan justru membuat kita semakin sulit berkonsentrasi. Jika konsentrasi buyar, kita menjadi semakin cemas.

Apa yang bisa dilakukan dalam kondisi demikian? Sebenarnya hal-hal semacam itu akan lebih mudah diatasi kalau kita memahami cara bekerjanya otak. Kita perlu memiliki ketrampilan mengendalikan gelombang otak yang bisa memudahkan kita menenangkan diri di saat panik.

Dengan memahami posisi gelombang otak, kita bisa mengatur mood sehingga selalu merasa bahagia, juga sukses dengan setiap hal yang kita lakukan. Untuk mencapai kebahagiaan lewat kendali gelombang otak, kita bisa belajar dari anak-anak. Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak ketika sedang bermain dengan teman-temannya? Lihatlah betapa mudahnya mereka tertawa bahagia. Meskipun mungkin baru saja saling mencakar dan sama-sama menangis, tapi beberapa menit kemudian mereka seolah sudah melupakan tangisan dan sudah kembali bermain bersama dengan kompaknya.

Hal itu karena anak-anak masih mudah menyetel gelombang otaknya memasuki frekuensi alpha-theta. Frekuensi alpha-theta ini normalnya kita alami ketika sedang rileks, melamun dan berimajinasi. Berbeda dengan kondisi beta yang dominan ketika kita dalam kondisi sadar sepenuhnya dan lebih banyak menggunakan akal pikiran. Memasuki frekuensi alpha-theta itu sebenarnya merupakan ketrampilan manusia yang alami. Namun, ketika mulai sekolah, kita dikondisikan menyetel gelombang otak yang dominan beta. Jadi, begitu menjadi orang dewasa , keterampilan memasuki kondisi alpha-theta itu hilang.

Apalagi tuntutan kehidupan modern membuat pikiran orang terfokus untuk bekerja keras demi tuntutan materi dan kehidupan yang konsumtif meskipun terpaksa mengurangi waktu tidur dan istirahat. Padahal saat tidur manusia seharusnya merasakan keempat frekuensi. Dari frekuensi beta di mana kita dalam kesadaran penuh, gelombang otak turun ke alpha ketika kedua mata tertutup, lalu masuk ke theta, dan akhirnya ke delta saat kita tertidur pulas tanpa mimpi. Karena waktu tidur kurang, maka kita cenderung kurang mengalami kondisi alpha-theta, akibatnya kita makin mudah stres. Alfa-Theta, membuat tenang, bahagia dan kreatif. Kemampuan untuk secara temporer mengubah kesadaran diri satu frekuensi ke frekuensi yang lain adalah keterampilan yang sangat penting, karena efeknya akan membantu menyeimbangkan otak, hati, dan jiwa. Keterampilan itu membuat seseorang menjadi pandai membaca situasi dan pandai menempatkan diri dalam suasana apapun sehingga seolah-olah sellau berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Tentunya hal itu sangat penting untuk mendaki tangga kesuksesan dan mencapai kebahagiaan.

Ketika masalah berdatangan dan mulai merasa stres, itulah saat yang tepat untuk mulai rileks,menurunkan vibrasi otak dan memasuki frekuensi alpha-theta. Begitu juga ketika pekerjaan kita membutuhkan pikiran-pikiran kreatif. Memasuki kedua frekuensi itu akan membantu memunculkan inspirasi yang kita butuhkan. Menarik lagi, kedua frekuensi tersebut juga merupakan pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar yang dibutuhkan untuk melakukan self hypnosis, mendapatkan intuisi dan melakukan penyembuhan. Masalahnya bagaimana caranya memasuki frekuensi alpha-theta dengan cepat?

Sebenarnya usaha untuk memasuki level alpha-theta secara sadar telah dilakukan orang sejak lama, yaitu dengan kebiasaan berdzikir/bertafakur/bertadabur yang membuat doa makin khusyuk, latihan-latihan meditasi, yoga, atau taichi.

Latihan-latihan itu bisa sangat membantu meningkatkan kemampuan kita untuk mengubah kesadaran otak. Para penyembuh yang menggunakan energi dan tenaga dalam, karena tuntutan pekerjaannya umumnya telah menuai ketrampilan ini secara otomatis.

Caranya yaitu dengan melakukan entertainment. Yaitu istilah yang digunakan untuk melatih belahan otak kiri dan otak kanan agar mau bekerja sama dengan baik. Otak dengan tingkat kerjasama yang tinggi, umumnya akan membuat orang melihat kehidupan dengan lebih objektif, tanpa ketakitan dan kecemasan. Selain lebih mudah memasuki kondisi khusuk atau rileks yang dalam, juga memiliki kemampuan memfokuskan konsentrasi yang lebih baik. Selain itu karena kondisinya lebih sinkron dan seirama, otak akan mengeluarkan senyawa kimia penyebab rasa nyaman dan nikmat dalam jumlah besar sehingga terjadi relaksasi secara alami. Nampaknya mereka yang tidak terbiasa dengan latihan-latihan meditasi, yoga, tai chi, dan lainnya cara ini bisa membantu.

Semoga bermanfaat ...

Have a positive day!

[SDMList]

Rabu, 16 Februari 2011

Jika Sudah PAHAMI, LAKUKAN !




Saat iseng-iseng membaca buku The Success Principles karya Jack Carfield, saya tertarik dengan sebuat kalimat sederharna
do your own push up.

Apa yang dimaksud Jack dengan kalimat tersebut, hmm setelah saya baca dan pahami akhirnya saya dapatkan pemamahan
yang cukup jelas. Dari kalimat tersebut saya pahami bahwa siapapun jua tidak akan merasakan keuntungan apapun dari apa
yang tidak kita upayakan meski kita membayar dengan sejumlah uang tertentu sekalipun. Jika kita sendiri tidak mau memanfaatkan
segala pengetahuan dan kemampun yang kita miliki. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mengetahuinya (skills and knowledge)
dan sudah melakukannya (desire and action) ? 



Seperti halnya saya ingin menjadi seorang body builder, tentulah saya tidak membayar ataupun meminta seorang Personal
Trainer ataupun orang lain untuk melakukan latihan alat-alat berat untuk memperoleh hasil tanpa saya sendiri dengan rajin berlatih
dan tekun melakukannya, bukan!  Ataupun terhadap keingininan-keinginan kita lainnya tanpa niat dan segenap usaha yang kita
upayakan. Bagaimana mungkin seorang karyawan bagian penjualan akan mendapatkan keberhasilan yang didambakannya tanpa
menyelami dan terjun di dunia penjualan itu sendiri. 



Pelajarilah, pahamilah, lakukankanlah dengan begitu kita memperoleh banyak pelajaran berharga untuk memperoleh tangga
keberhasilan. Karena dengan paham dan lakukan, kita akan merasakan nilai sebuah perjuangan, manisnya berdamai dengan kegagalan,
belajar dengan lebih kreatif mendapatkan cara yang  efektif, dan banyak pelajaran yang akan kita dapatkan.  Tentu saja kita pahami bentuk
bahwa ada resiko yang akan kita peroleh yaitu ketidakberhasilan. Tapi tak mengapa, karena memang di setiap ketiakberhasilan menjadikan
kita lebih kreatif untuk mendapatkan ide yang jita untuk menggapan puncak tangga keberhasilan. Karena memang disitulah letak perbedaaan
antara orang yang hanya sekedar tahu dan orang yang berani melangkah untuk melakukan. Jelas sekali, orang yang hanya memiliki
pengetahuan/dan kemampuan semata tanpa usaha tidak akan mengetahui dan mengalami perubahan-perubahan yang terjadi, berbeda
halnya dengan orang yang melakukannya.  

Dengan kita terus melakukannya, akan memudahkan jalan kita untuk mengetahui apa saja yang dapat membantu jalan menuju
keberhasilan. Memperluas hubungan, kreativitas, bekerja dengan lebih cerdik, dan sebagainya hanya dapat diperoleh kita sendirilah yang
melakukannya.  Kita bisa dapat membedakan orang lain mana yang benar-benar memiliki jiwa terhadap pekerjaan yang ditekuni mana
yang hanya sekedar tahu di mulut tanpa jerih payah dan peluh dari raga, itulah dedikasi dari sebuah usaha. Ibarat si punduk merindukan
bulan, hidup hanya dipenuhi oleh impian2 di kepala.

Jadi, mengapa kita tidak mulai untuk lakukan setelah kita pelajari dan pahami ? apakah kita akan tersenyum lirih ketika melihat
keberhasilan orang-orang disekitar. Itulah pilihan, bukan!

Have a positive day!

Salam Inspirasi

[SDMList]

Pemimpin Yang Memiliki PRINSIP




Dalam situasi bisnis saat ini tampaknya mudah sekali orang membenarkan cara-cara kasar demi tujuan baik. Bagi mereka, "bisnis adalah bisnis", sedangkan "etika dan prinsip terkadang harus mengalah pada keuntungan". Selain itu, banyak juga kita lihat para pelaku dan pemimpin bisnis yang tampak berhasil menumpuk kekayaan, namun di belakang kehidupan mereka tampak kacau dan mengenaskan. Padahal bila kita tinjau, hampir setiap minggu muncul teori manajemen baru, namun tampaknya sedikit sekali yang meninggalkan hasil yang diharapkan. Mengapa demikian?
Menurut Stephen R. Covey, penulis buku terkenal, "Seven Habits of Highly Effective People", dalam bukunya yang lain "Principle Centered Leadership", hal ini disebabkan mereka tidak lagi berpegang pada prinsip dasar yang berlaku di alam ini. Padahal hukum alam, berdasarkan pada prinsip, berlaku tanpa peduli apakah kita menyadarinya atau tidak. Oleh karena itu semestinya
kita meletakkan prinsip-prinsip ini di pusat kehidupan, hubungan, kontrak-kontrak manajemen dan seluruh organisasi bisnis anda.
Stephen Covey percaya bahwa kesuksesan kita, baik pribadi maupun organisasi, tidak dapat diraih begitu saja. Kesuksesan harus datang dari "dalam diri" dengan berdasarkan pada apa yang kita pahami dan yakini untuk menjadi prinsip yang tak tergoyahkan. Dengan demikian kepemimpinan yang berprinsip memusatkan kehidupan dan kepemimpinan kita pada prinsip-prinsip utama yang benar.



Artikel ini tidak membahas apa itu prinsip menurut Covey, namun meringkas ciri-ciri pemimpin yang berprinsip. Ciri-ciri dari pemimpin yang mendasarkan tindakannya pada prinsip. Dengan demikian setidaknya kita bisa mengenal bagaimana kepemimpinan yang berpusat pada prinsip itu. Ada delapan ciri-ciri pemimpin yang berprinsip.
1. Pemimpin yang terus belajar
Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.
2. Pemimpin yang berorientasi pada pelayanan
Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karier. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.
3. Pemimpin yang memancarkan energi positif
Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.
4. Pemimpin yang mempercayai orang lain.
Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.
5. Pemimpin yang hidup seimbang
Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakannya. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri
sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.
6. Pemimpin yang melihat hidup sebagai sebuah petualangan
Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpahan.
7. Pempimpin yang sinergistik
Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.
8. Pemimpin yang berlatih untuk memperbarui diri.
Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

(di summary dari Buku Principle Centered Leadership karangan Stephen R. Covey)

Semoga bermanfaat!

Have a positive day!

Fase Perjalanan Karir Profesional





Tapi tahukah Anda bahwa dalam perjalanan setiap profesional akan melewati ketiga fase? Bila
Anda mampu menjalankannya dengan baik, maka keberhasilan akan Anda raih. Namun jika
tidak, kegagalan lah yang akan Anda rasakan. Pakar karir, Andrew Mayo mengungkapkan ada
tiga fase dalam perjalanan karir seseorang. Ketiga fase tersebut adalah:

• Discovery phase
Pada fase ini, seseorang akan beradaptasi dengan dunia kerja, berupaya untuk mengenali
kemampuan dirinya, belajar tentang dunia kerja dari berbagai pihak, dan mulai memperoleh
pengalaman. Fase ini biasanya berlangsung sekitar sepuluh tahun pertama dalam dunia kerja.
Pada fase pencarian inilah seseorang mulai untuk menentukan arah karirnya di masa depan.




• Consolidation phase
Fase ini biasanya berlangsung pada usia 30 sampai dengan 50 tahun pada perjalanan karir
seseorang. Tetapi ada pula yang memulai fase ini lebih awal, dan ada pula yang terlambat.
Demikian pula dengan akhir fase ini, ada yang mengakhirinya lebih awal, dan ada pula yang
terlambat. Pada fase ini seseorang mulai menyadari (tetapi juga mungkin gagal untuk menyadari)
ambisi dan mengukur kemampuan dirinya. Mereka yang berhasil akan terus melaju, dan
sebaliknya mereka yang gagal bersiap untuk mengalami kemandegan bahkan penurunan karir.
Pada fase ini pulalah kemapanan karir seseorang dimulai.




• Maturity phase
Jika seseorang berhasil melewati fase pertama dan kedua dengan baik, maka pada fase ini dia
memiliki akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang sangat substansial, dan sangat
bermanfaat untuk tempat kerjanya. Sebaliknya, mereka yang gagal melewati fase pertama dan
kedua akan kehilangan fleksibelitas, gagal memahami nilai-nilai yang dinamis, tidak mampu
mengikuti perubahan lingkungan, dan akan tertinggal.
Nah sudahkah rekan-rekan melewati ketiga fase tersebut? Namun pada fase keberapapun kita
kini berada, jangan pernah berhenti untuk menuju fase atau proses selanjutnya. Karena pada
dasarnya tidak pernah ada kata selesai untuk menggapai kesuksesan. So, semoga karir kita
menjulang...!
Semoga bermanfaat!


Have a positive day!

[SDMList]

Apakah Anda Sudah Memiliki RASA BERSYUKUR ?




"Dari semua sikap yang dapat kita peroleh, sudah tentu sikap bersyukur adalah yang terpenting dan sikap yang paling mengubah kehidupan"
Seberapa penting rasa bersyukur bagi Anda ? Mengapa kita harus mempunyai rasa bersyukur? Apakah rasa bersyukur dapat membuat kita menjadi lebih baik ? dan banyak pertanyaan lainnya di dalam kepala.

Tentu saja benyak pertanyaan akan dapat terjawab kita kita bersedia meluangkan waktu untuk merenung sejenak memahami sebuat kata ”Syukur”. Sebenarnya rasa bersyukur dapat membantu kita menyingkirkan berbagai onak duri negatif di dalam kehidupan kita, meskipun ada sebagian orang mengangap kita tidak masuk akal atas sikap bersyukur yang kita tunjukkan.

Yang pasti, dengan kita memiliki rasa bersyukur kita dapat lebih menerima sebuah realita. Sadarilah dalam diri rasa bersyukur tentunya akan membantu dan mendorong kita untuk berjalan lebih dan memacu semangat lebih menggebu untuk mencapai tujuan yang ingin kita capai. Tak salah bila rasa bersyukur dapat meringankan ayunan kedua belah kaki dalam menapaki setiap derap langkah kehidupan Cobalah kita bandingkan disaat rasa syukur semakin sering kita rasakan, akan semakin banyak kita menerima bukan! sebaliknya, beban yang kita pikul semakin berat bila kita mengingkari dari rasa bersyukur. Tak heran bila kita lihat banyak orang yang masih terpaku dengan kegagalan yang dialaminya. Tiada keberhasilan yang mudah diperoleh dengan berkeluh kesah saja, bukan!

Lalu mengapa kita tidak menggenggam erat-erat rasa bersyukur, padahal rasa bersyukur mampu membukakan setiap pintu pikiran bersemayam pikiran-pikiran positif. Coba pikirkanlah, Di saat kita mengeluh, rasa syukur dalam diri akan berlalu dan tergantikan oleh "negative perspective thinkking". Sehingga rasa ini akan menggerogoti kenikmatan atas apa yang berada
didalam genggaman dan sebaliknya justru akan mengabaikan begitu banyak kesenangan yang telah kita peroleh. “Seandainya seluruh Pohon didunia ini digunakan sebagai pena, dan seluruh Lautan digunakan sebagai tintanya maka tidak akan pernah habis ditulis oleh anak Adam kenikmatan dari Yang Maha Kuasa yang telah kita didapatkan”
Seperti Dr. Jack Graham mengatakan bahwa setiap orang dalam kehidupannya akan menanamkan suatu sikap berterima kasih dan bersyukur atau suatu sikap kepahitan dan keangkuhan.
Dia menambahkan dengan menjelaskan bahwa anak kecil yang bersyukur akan lebih cenderung menjadi anak yang bersuka cita. Sebaliknya seorang yang pemarah dan pengeritik secara
mendasar tidak berbahagia.
Ucapan syukur tidak hanya akan membuat kita menjadi lebih sehat dan bahagia, itu akan mengubah cara kita memandang segala sesuatu dalam kehidupan. Orang yang berbahagia memusatkan perhatian mereka terutama pada orang lain; orang-orang yang tidak berbahagia memusatkan perhatian pada diri sendiri dan berkubang pada rasa kasihan pada diri sendiri dan dalam keragu-raguan. Orang-orang yang bersyukur akan lebih optimis dan akan melihat segala sesuatu dimana mereka berada sebagai suatu kesempaan untuk mendatangkan kebaikan.
Lalu, bagaimana cara kita memupuk, memperkuat, dan memelihara rasa bersyukur ?
Mungkin sebagian dari kita telah memiliki rasa bersyukur meski terkarang luput dari ingatan, tetapi tak mengapa toh pada hakekatnya sebagai manusia biasa kita akan berupaya memelihara dan menyuburkannya. Jadikan rasa bersyukur menjadi bagian dari kebiasaan dan sahabat baik dalam hati kita.
1. Ucapkan rasa bersyukur dengan mengucapan terima kasih kepada siapapun yang telah memberikan kebaikan kepada kita entah apapun bentuk kebaikan yang kita terima. Biasakan untuk setiap saat bersyukur kepada Sang Maha Pencipta untuk semua anugerah yang telah kita terima dan nikmati. Karena kita percaya bahwa Tuhan memberikan begita banyak kelimpahan rizki, anugerah, dan kenikmatan di kehidupan ini. Lakukanlah di setiap langkah dan waktu kita entah waktu makan, sebelum dan setelah tidur, dalam perjalanan, di tempat kita bekerja, dst. Cobalah untuk memimalkan rasa mengeluh, merasa selalu tidak beruntung, sering sial dan sebagainya akan semakin menjauhkan kita dari rizki dan keberuntungan karena Sang Pencipta akan memberikan sesuai apa yang diperkakan mahluknya dimana semakin kita sering bersyukur semakan sayanglah Sang Pencipta pada kita dan menurunkan rizkinya. Dan memang kita sering mengeluh, tanpa kita sadari kita telah menyampaikan kepada alam semesta bahwa kita adalah orang yang tidak beruntung. If we believe we can see it.....
2. Tanamkan dalam pikiran bahwa apapun yang terjadi, kita terima, alami, dan hadapi di kehidupan ini terdapat hikmah kebaikan dari Sang Pencipta yang banyak tidak kita ketahui. Percayalah bahwa apa yang kita terima dari kehidupan ini adalah terbaik untuk kita, karena terbaik untuk kita belum tentu itu memang yang terbaik bagi Sang Pencipta karena kita tidak akan pernah mengetahui apapun yang akan terjadi kemudian 1 jam kemudian, besok hari, minggu depan, bulan yang akan datang, atau tahun berikutnya dan seterusnya – itulah rahasia Sang Pencipta yang Maha Kuasa.
3. Sering-seringlah untuk melakukan refreksi diri untuk berkaca kepada orang lain yang mungkin saja secara materi dan non materi tidak seberuntung kita meski ukuran kekayaan hati adalah masalah hati dan hanya sepengetahuan Sang Pencipta. Tengoklah ke bawah, saudara-saudara kita yang harus berjuang untuk mendapatkan segenggam nasi, berjuang keluar dari penderitaan akibat musibah gempa dan sebagainya dan hidup di barak-barak pengungsian ataupun saudara-saudara kita di benua lain yang harus menderita kelaparan sekian tahun lamanya. Dan masih banyak realita yang dapat kita tengok dan renungkan. Lalu pertanyaan sederhana adalah ”Jika di perusahaan tempat anda bekerja, tahun ini hanya 3% kenaikan gaji, atau bahkan tidak naik ada kenaikan gaji ?”Bagaimana sikap Anda ?
4. Bukalah mata hati untuk membantu orang lain dengan sedikit banyak rizki yang kita miliki. Pamahilah bahwa kita tak akan jatuh miskin hanya karena kita rajin untuk berbagi rizki kepada orang lain karena keyakinan yang kita miliki di setiap kebaikan tersebut akan dilipatkan gandakan balasannya. Dengan berbagi membuat hati kita menjadi lebih damai, tenang, dan bahagia karena setidaknya kepuasan batin telah kita peroleh ketika kita melihat rizki yang kita miliki bermanfaat untuk orang lain.


Have a positive day!

[SDMList]

Apakah KEKUATAN ataukah KELEMAHAN ?




Coba renungkan sejenak, terkadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar
kita. Seperti contoh cerita seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang memutuskan
untuk mempelajari Judo, meskipun ia telah kehilangan lengan kirinya dalam sebuah
kecelakaan mobil.

Sang Bocah belajar dari seorang guru Judo Jepang. Bocah ini benar-benar
belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak paham, kenapa setelah tiga bulan latihan,
sang guru hanya mengajarkannya satu gerakan.
“Sensei,” akhirnya sang bocah bertanya, “Bukankah saya seharusnya
sudah belajar gerakan lainnya?”

“Ini adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga
satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahui” jawab sang Sensei.
Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya, bocah
ini tetap berlatih dan berlatih.

Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke
turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang bocah
dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya. Pertarungan
ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat, lawannya kehilangan
kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan piawai menggunakan satu
gerakannya untuk memenangkan pertarungan. Masih heran dengan
kemenangannya, sang bocah masuk final.

Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Untuk
beberapa saat sang bocah terlihat tidak sepadan dibanding lawannya.
Karena kuatir sang bocah bisa cedera, wasit menyerukan time-out. Ia
bermaksud menghentikan pertarungan saat sang sensei
menginterupsinya.

“Tidak,” interupsi sang sensei,”Biarkan ia melanjutkan.”
Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat kesalahan
kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat sang bocah
menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang bocah
memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang juaranya.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya
mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu sang
bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya.
“Sensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan
satu gerakan?”
“Kamu menang karena dua alasan!” jawab sang sensei. “Pertama, kamu
hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua gerakan di judo.
Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah diketahui terhadap gerakan
itu adalah jika lawan kamu menangkap lengan kiri kamu”

Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya.

Have a positive day!


[SDMList]

Selasa, 02 November 2010

Mengelola Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard

people-ring-re.jpgYou can not manage what you can not measure, demikian guru manajemen Peter Drucker pernah berujar. Spirit kalimat itu mengindikasikan bahwa pengelolaan kinerja manajemen atau kinerja bisnis selalu mesti dilakoni melalui proses dan hasil yang terukur. Tanpa manajemen yang berbasis pada indikator yang terukur dan objektif, sebuah gerak organisasi bisnis bisa terpeleset menjadi sejenis paguyuban yang tak produktif.
Dalam konteks pengukuran kinerja perusahaan ini, sekarang kita mengenal adanya sebuah pendekatan yang disebut sebagai balanced scorecard. Pendekatan ini sendiri dipopulerkan oleh Kaplan and Norton melalui bukunya yang fenomenal itu, Balanced Scorecard : Translating Strategy Into Action. Pengertian balanced scorecard sendiri jika diterjemahkan bisa bermakna sebagai rapot kinerja yang seimbang (balanced). Kenapa disebut seimbang karena pendekatan ini hendak mengukur kinerja organisasi secara komprehensif melalui empat dimensi utama, yakni : dimensi keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan dimensi learning & growth.
Dimensi keuangan merupakan hasil akhir yang ingin digapai oleh sebuah organisasi bisnis. Sebab tanpa menghasilkan profit yang sustainable dan cash flow yang sehat, sebuah perusahaan mungkin akan lebih layak disebut sebagai paguyuban sosial. Dalam dimensi ini, beberapa indikator kinerja (atau lazim disebut sebagai key performance indicators atau KPI) yang kerap digunakan sebagai acuan antara lain adalah : tingkat profitabilitas perusahaan, jumlah penjualan dalam setahun (sales revenue), tingkat efisiensi biaya operasi (operation cost dibanding sales), ataupun juga sejumlah indikator keuangan seperti ROI (return on investment), ROA (return on asset) ataupun EVA (economic value added).
Dimensi selanjutnya adalah dimensi pelanggan yang notabene merupakan tonggak penting untuk mencapai kejayaan dalam aspek keuangan. Sebab tanpa pelanggan, sebuah organisasi bisnis tak lagi punya alasan untuk meneruskan nafasnya. Demikianlah untuk menggapai kesuksesan, perusahaan juga mesti memetakan sejumlah ukuran keberhasilan dalam dimensi pelanggan. Sejumlah key performance indicator (KPI) yang lazim digunakan dalam dimensi pelanggan ini antara lain adalah : tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction index), brand image index, brand loyalty index, persentase market share, ataupun market penetration level.
Dimensi berikutnya adalah dimensi proses bisnis internal. Pertanyaan kunci yang layak diajukan disini adalah : untuk meraih keberhasilan keuangan dan memuaskan pelanggan kita, proses bisnis internal apa yang harus terus menerus disempurnakan? Beberapa elemen kunci dalam proses bisnis internal yang layak dikendalikan dengan optimal mencakup segenap mata rantai (supply chain) proses produksi/operasi, manajemen mutu, dan juga proses inovasi. Beberapa contoh KPI yang lazim digunakan dalam dimensi ini antara lain adalah : persentase produk yang cacat (defect rate), tingkat kecepatan dalam proses produksi, jumlah inovasi proses dan produk yang dikembangkan dalam setahun, jumlah produk/jasa yang di-delivery dengan tepat waktu, ataupun jumlah pelanggaran SOP (standard operating procedures).
Dimensi yang terakhir adalah dimensi learning and growth. Dimensi ini sejatinya hendak berfokus pada pengembangan kapabilitas SDM, potensi kepemimpinan dan kekuatan kultur organisasi untuk terus dimekarkan ke titik yang optimal. Dengan kata lain, dimensi ini hendak meletakkan sebuah pondasi yang kokoh nan tegar agar sebuah organisasi bisnis terus bisa mengibarkan keunggulannya. Contoh KPI (key performance indicators) yang lazim digunakan untuk mengukur kinerja pada dimensi ini antara lain adalah : tingkat kepuasan karyawan (employee satisfaction index), level kompetensi rata-rata karyawan, indeks kultur organisasi (organizational culture index), ataupun jumlah jam pelatihan dan pengembangan per karyawan.
Demikianlah empat dimensi utama yang mesti dikelola dan diukur kinerjanya secara konstan dari waktu ke waktu. Pada dasarnya keempat dimensi diatas bersifat sinergis dan saling behubungan erat secara hirarkis. Sebuah organisasi bisnis hampir tidak mungkin mencapai keunggulan finansial tanpa ditopang oleh barisan pelanggan yang puas dan loyal. Dan barisan pelanggan yang loyal ini tak akan pernah terus tumbuh jika sebuah organisasi tidak memiliki proses bisnis yang ekselen nan inovatif. Dan pada akhirnya, proses kerja yang ekselen ini hanya akan mungkin menjelma menjadi kenyataan jika organisasi tersebut ditopang oleh barisan SDM yang unggul, kepemimimpinan yang tangguh dan budaya organisasi yang positif.
Pengelolaan kinerja organisasi bisnis secara optimal dengan demikian mesti mempertimbangkan keempat dimensi diatas secara intregratif. Serangkaian key performance indicators (beserta target angka) untuk tiap dimensi diatas mesti diidentifikasi dan kemudian dimonitor pencapaiannya secara periodik (misal setiap sebulan sekali dalam sesi monthly performance review meeting). Melalui proses pengelolaan kinerja yang komprehensif pada empat dimensi inilah, sebuah organisasi bisnis mestinya bisa terus tumbuh dan mekar menuju ranah kejayaan.